Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

7 Agustus 2012

Penelitian Keluarga H. Asep Herdiana


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Penelitian
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu".(QS. An-Nisa:1)

Penelitian Tarekat Naqshbandiyah Kholidiyah di Manglayang Regensi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Penelitian

Dewasa ini pergantian zaman yang semakin maju dan globalisasi yang semakin banyak yang merasuki jiwa manusia, sehingga manusia dizaman sekarang ini banyak yang mengaku dirinya islam tapi prilaku dan penampilannya tidak layaknya sebagai muslim sejati. Sehinga manusia semakin jauh dari sang pencipta.
Untuk itu perlu adanya pencerahan bagi orang-orang dizaman sekarang hati  yang telah di butakan oleh perubahan zaman, maka dari itu ilmu tasawuf yang berkembang dalam tarekat untuk membentengi hati manusia dari godaan setan yang membuat hati dan kehidupannya tidak nyaman terutama ketenangan batinnya. Ilmu tasawuf yang berasal dari tarekat islam beserta amalannya yaitu dzikir yang berlandasarkan Al-Qur’an, Hadits dan ijma. Yang berguna untuk membina iman manusia agar tidak tergoyahkan oleh godaan dan bujuk rayu syetan, nafsu dan cobaan-cobaan yang Allah berikan.

1.2    Rumusan Penelitian

6 Agustus 2012

Tasawuf - Bagian ke-7

Tasawuf

Bagian ke-7

 Kembali kepada Allah

Syariat adalah jalan menuju sumber air kehidupan. Ia adalah jalan umum, jalan yang ditempuh secara bersama-sama oleh suatu komunitas. Namun, semakin dekat dengan sumber air itu, jalannya semakin sempit. Jalan yang hanya cukup dilalui oleh dirinya. Jalan inilah yang disebut “tarekat” [thariqah].

Kalau digambarkan hubungan antara syariat dan tarekat, dapat diumpamakan seseorang yang mau nonton film di gedung bioskop. Ada syarat umum yang berlaku bagi yang ingin menonton. Pertama, umur yang akan menonton, yang dalam bahasa agama ia harus sudah akil-balig [sudah cukup umur dan berakal sehat]. Kedua, orang tersebut harus punya karcis atau undangan menonton. Bila yang akan menonton itu tidak diatur, maka mereka akan berebut beli karcisnya, atau berebut masuk gedung pertunjukannya. Nah, antre agar bisa beli karcis dan masuk satu per satu dapat dium-pamakan sebagai tarekat.

Tasawuf - bagian ke-6

Tasawuf

Bagian ke-6


Semua ini ternyata diatur dalam keseimbangan. Ada batas-batas yang telah ditetap-kan oleh Tuhan, baik di alam raya ini maupun di dalam diri manusia. Di dalam surat Ar Rahman/55:7-9 dinyatakan,

7. Dan Dia tinggikan langit, lalu Dia tetapkan neraca.

8. Agar kamu tidak melampaui batas neraca itu.

9. Tegakkan neraca itu dengan adil, dan janganlah menguranginya.

Wujud alam ini memang dualisme karena itu ada mizan, ada neraca alias ada ukuran pada setiap benda atau wujud ini. Batas-batas itu tetap harus dijaga. Batas-batas itu tidak boleh dilampaui. Dalam arti, tak boleh dilebihi maupun dikurangi sehingga batasnya ambruk. Kita bisa membayangkan, bila manusia yang menghuni bumi ini berlebihan pria atau wanitanya. Bukan kedamaian yang kita rasakan. Tetapi bencana!

Tasawuf - Bagian ke-5

Tasawuf

Bagian ke-5


Bumi, rembulan dan planet-planet lain di tatasurya ini beredar dalam keseimbangan dan pada batas-batas orbit yang tepat. Begitu pula semua bintang di alam raya ini berjalan dalam keseimbangan. Ini tidak berarti tidak ada penyimpangan. Ada penyimpangan itu! Seperti jatuhnya meteor atau komet pada planet. Penyimpangan itu tidak menghancurkan tatasurya selama “mizan” atau keseimbangan alam itu tidak terlampaui.

Kehidupan masyarakat manusia di bumi ini juga mengikuti hukum keseimbangan. Manusia harus menjaga keseimbangan itu. Itulah sebabnya di dalam Al Quran banyak peringatan untuk tidak merusak bumi ini. Merusak bumi (termasuk atmosfernya) adalah perbuatan merusak keseimbangan alam. Akhirnya, proses peretumbuhan dan perkemba-ngan manusia dalam perjalanan menuju Tuhannya yang mengalami kerusakan. Alam dibuat Tuhan untuk tidak mentolerir perbuatan yang merusak. Jika manusia telah rusak perilakunya, maka alam dengan segera memberi jawabannya yang berupa bencana dan mala petaka. Dalam surat al- A‘raf/7:55-56 manusia diperingatkan,

Tasawuf - Bagian ke-4

Tasawuf

Bagian ke-4


Di bagian ke-3 diterangkan bahwa kita semua, alam semesta ini, dihadirkan oleh Tuhan dari “Satu Wujud”. Lalu, dipisahkan-Nya wujud yang satu itu menjadi triliunan entitas atau wujud. Dari wujud-wujud itu ada yang menjadi “sarana” kehidupan, seperti planet bumi; dan ada pula yang menjadi “wahana” kehidupan. Yang pertama adalah alat, lingkungan atau perlengkapan untuk mencapai tujuan, sedangkan yang belakangan adalah kendaraan untuk mencapai tujuan. Jadi, bumi adalah tempat kehidupan dan badan adalah kendaraan bagi sang hidup untuk kembali kepada Yang Maha Hidup.

Nah, tubuh atau fisik kita sebenarnya hanyalah “kendaraan” atau “alat transpor” bagi “Diri Sejati” kita, “hidup” kita, atau “sukma” kita. Saya sengaja tidak menggunakan kata “aku” untuk menghindari kesalahpahaman dengan “ego” atau ananiyah, keakuan. Jadi, untuk selanjutnya diri sejati yang ada pada masing-masing diri kita, saya singkat dengan “DS”. Ya, dialah penunggang kereta yang bernama badan jasmani ini. Dialah yang disebut “sang hidup”. Baju yang digunakan DS ini namanya “nafs” atau jiwa. Dan, DS ini roh adanya. Karena itu, manusia yang hidup ini sebenarnya terdiri dari komponen yang bersifat fisik (corpus, badan), nafsani (animae, jiwa atau nyawa), dan rohani (spiri-tus, semangat atau roh).

Tasawuf - Bagian ke-3

Tasawuf

Bagian ke-3


Telah dijelaskan bahwa ajaran tasawuf adalah untuk menggapai hikmah Ilahi, yang pada akhirnya mampu kembali kepada Allah. Dia adalah asal segala keberadaan, baik yang kasat mata maupun yang gaib. Alam semesta ini tumbuh dari wujud yang paling sederhana, yang disebut titik singularitas. Pada suatu masa yang sangat mampat, meledaklah titik singularitas itu. Ilmuwan fisika menamai ledakan ini dengan “big bang”, atau “ledakan besar”. Segala sesuatu ini memang berasal dari titik tunggal seperti yang diungkapkan pada QS 21 : 30, “Dan apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu dahulunya satu yang padu. Lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari “zat cair”. Maka apakah mereka tetap tidak beriman?”

Di antara mufasir Al Quran ada yang mengatakan bahwa “samawat” adalah semua ruang, dan “ardh” adalah materi. Dengan demikian ayat tersebut di atas diterjemahkan menjadi “sesungguhnya ruang dan materi itu dahulunya sebagai wujud yang satu”. Lalu, apa hubungannya ayat ini dengan bahasan tasawuf kita? Ya, ayat ini sebenarnya mengi-ngatkan kita bahwa semua keberadaan ini berasal dari “SATU” wujud. Dari situlah

Tasawuf - Bagian ke-2

Tasawuf

Bagian ke-2


Pada bagian ke satu, telah dikutipkan surat Aali Imraan/3:31 yang terjemahannya sebagai berikut, “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan menutupi dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah.”

Dalam kehidupan ini banyak orang yang tidak bisa membedakan antara kata “mengikuti” dan “meniru”. Yang diperintahkan kepada umat manusia adalah “mengikuti” atau “ittiba‘”, bukan meniru. Hal ini jelas, karena manusia bukanlah hewan. Manusia adalah sebuah kepribadian yang bisa tumbuh dan berkembang. Manusia adalah kepribadian yang dapat tumbuh dewasa. Mula-mula manusia tumbuh menjadi  “kanak-kanak” yang sifatnya hanya meniru. Ia berusaha meniru perilaku di lingkungannya. Dalam bahasa agama, ia dikatakan tumbuh secara  “taqlid”.

Mengapa peniruan oleh kanak-kanak ini disebut taqlid? Karena tahap pemikiran kanak-kanak belum berkembang dengan baik. Sedangkan meniru adalah tahap pertama dalam proses pendewasaan pribadinya. Kanak-kanak ingin melakukan apa saja yang dilihatnya. Ia belum bisa mengerti alasan mengapa perbuatan tertentu dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya. Seandainya kanak-kanak itu bisa berjanggut, maka ia

Tasawuf - Bagian ke-1


TASAWUF
Rangkuman ceramah mingguan oleh:
Bp. Achmad Chodjim


Bagian ke-1

 Di atas tahun 80-an tasawuf atau sufisme menjadi nge-tren di dunia. Bahkan di Indonesia setelah tahun 90- an tasawuf banyak diminati orang. Seminar dan kursus-kursus tentang tasawuf diadakan di hotel-hotel atau di gedung-gedung mewah. Lebih-lebih dalam suasana krisis, tasawuf semakin dicari orang.

Jika kita melihat di toko-toko buku, semakin hari semakin banyak buku tasawuf yang dipajang. Buku-buku tasawuf itu meliputi tulisan orang Indonesia, maupun terjemahan dari buku-buku tasawuf yang berbahasa asing, khususnya terjemahan dari bahasa Arab. Dan sekarang bisa kita jumpai buku-buku tasawuf yang ditulis pada masa 700 ? 1000 tahun yang lalu.

Mengapa sekarang ini tasawuf semakin diminati orang? Manusia modern sebenarnya manusia yang mengalami alienasi (keterasingan) jiwa. Persaingan dalam berebut benda ternyata melelahkan pikiran. Ketegangan-ketegangan dalam hidup sering dialami. Dalam kehidupan modern, manusia sering terperangkap oleh kebahagian-kebahagian semu. Yaitu, kebahagiaan yang direkayasa, bukan kebahagiaan yang tumbuh dari dalam diri manusia itu sendiri. Dalam kehidupan modern manusia diiming-iming dengan status, posisi, sertifikat, merek, dan berbagai macam simbol. Akhirnya pikiran manusia melekat pada topeng-topeng ini.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. solihat collection - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger