7 Agustus 2012

Pembangunan Masjid Al-Haram dan Nabawi


PEMBANGUNAN MASJIDIL HARAM
Satu di antara bangunan suci yang bersifat artistik dan bersejarah adalah Masjidil Haram. Masjid yang terletak di tengah-tengah kota Mekah dan dikelilingi beberapa bukit ini merupakan pembentukan kembali dan ikhtisar dari keselarasan, ketertiban, kedamaian alam semesta yang telah ditetapkan Allah SWT sebagai rumah peribadatan abadi kaum Muslim.
Konon, pada masa Rasulullah saw hingga Khalifah Abu Bakar, Masjidil Haram belum memiliki dinding di sekelilingnya. Besarnya pun belum sebesar sekarang ini, dan belum diberi penerangan lampu-lampu dari bahan bakar minyak zaitun di sekitar Baitullah (Ka'bah). Keadaan ini sudah sejak Nabi Ibrahim As, sampai suatu ketika Umar bin Khathab yang menjabat sebagai khalifah kedua membeli rumah-rumah yang ada dan berserakan di sekeliling Ka'bah. Oleh Umar rumah-rumah yang telah dibelinya itu, diruntuhkan untuk memperluas Masjidil Haram tersebut. Dan dibuatnya dinding pada sekeliling masjid, dengan ketinggian lebih rendah dari manusia. Di atas dinding-dinding masjid itu, diletakan lampu-lampu oleh Atabah bin Azrak untuk menerangi Masjidil Haram terseut.

            Pelebaran dan perluasan Masjidil Haram inipun dilanjutkan pula oleh Utsman bin Affan, karena semakin bertambah banyak dari tahun ke tahun orang yang melakukan shalat di masjid itu. Oleh Utsman bin Affan, Masjidil Haram itu dibuatkan kamar-kamar bilik (ruang), yang dinamakan ruak, pada sekeliling masjid, untuk digunakan sebagai asrama.
            Perluasan Masjidil Haram oleh Utsman bin Affan terjadi pada tahun 26 Hijriah, dan diteruskan oleh Abdullah bin Zubair cucu dari Abu Bakar pada tahun 75 Hijriah. Kemudian oleh Abdul Malik bin Marwan ditambah ketinggian masjid tersebut dengan perhiasan emas 50 karat pada tiap-tiap tiangnya.
Oleh Al-Walid, Masjidil Haram diperindah dengan ukiran yang terjalin antara kalimah dengan motif bunga. Pada beberapa tempat diberi dinding dari batu marmer dan batu pualam yang dipahat dengan seni yang tinggi. Maka Masjidil Haram pun menjadi tempat peribadatan yang ideal laksana gambaran nuansa Surgawi, karena dalam arsitektur Islam tak terdapat ketegangan. Bahkan, bangunan suci Islam selalu meletakan ketenangan dan kemuliaan sesuai dengan sifat batin alamiahnya ketimbang sesuatu yang bertentangan dengan sifat material yang ada. 

Arsitektur Islami 
Arsitektur Islam memanfaatkan sepenuhnya cahaya dan bayangan, kehangatan dan kesejukannya, angin dan sirkulasinya, air dan efek penyejukannya, tanah dan ciri-ciri isolatifnya serta sifat-sifat protektifnya terhadap cuaca. Jauh dari adanya percobaan untuk melawan dan menantang alam dan irama-iramanya, arsitertur Islam selalu selaras dengan lingkungan. Arsitektur Islam senantiasa melakukan perubahan sedikit mungkin untuk menciptakan lingkungan yang manusiawi, menjauhi pengingkaran titanis dan karya-karya artistiknya. 
Kota Islami berkembang secara perlahan dari bumi, mempergunakan semaksimal mungkin sumber-sumber alam itu sendiri. Dan apabila ditinggalkan biasanya secara perlahan akan kembali lagi ke perut bumi. Arsitektur Islam ini bukan hanya menyatukan diri dalam paduan harmoni dan keutuhannya. Selain itu keselarasan ekologis dalam arsitektur Islam tradisional bukanlah kebijaksanaan ekologis yang asal-asalan, dan juga tidak berdasarkan pertimbangan ekonomis dalam pengertian modern, melainkan merupakan konsekuensi dan alam spiritualitas Islam. 

Pada kenyataannya, harus ditekankan bahwa arsitektur suci Islam adalah sebuah kristalisasi dari spiritualitas Islam dan kunci untuk memahami spiritualitas ini. ruang yang terdapat di Masjidil Haram dan masjid-masjid lainnya dalam wilayah kota Islami telah diciptakan untuk memberikan perlindungan dan tempat manusia dapat menikmati, melalui ke-agungan spiritualitas itu juga. Kedamaian serta keselarasan alam yang suci sebagai refleksi surga. Yaitu, surga yang terkandung dalam lubuk dan pusat keberadaan manusia yang menggemakan kehadiran Tuhan. Ini karena hati orang yang beriman adalah singgasana yang Maha Penyayang. 
Dan semua ciri serta filosofi arsitektur Islam mewujud lewat kehadiran Masjidil Haram yang dibangun secara terus menerus oleh tokoh-tokoh umat Islam dari seluruh Dunia. 

PEMBANGUNAN MASJID NABAWI
Rasulullah selepas dari Quba dalam perjalanan Hijrahnya pada Jum'at 12 Rabiul Awal meneruskan perjalanannya menuju Yastrib. Kali ini bukan hanya bersama Abu Bakar yang telah menyertainyadari Makkah tetepi juga Ali bin Abi Thalib. Rasulullah memasuki kota Yastrib selepas tengah hari.
Hampir seluruh penduduk Yastrib menunggu di sepanjang jalan masuk ke kota Yastrib. Bukan hanya Bangsa Arab yang menyambut kedatangan Rasulullah melainkan jg bangsa Yahudi yang menjadi warga Yastrib. Shalawat di kumandangkan di sepanjang jalan menyambut orang mulia yang sangat mereka kagumi. Hari itu Yastrib bersuka cita. Setiap orang yang rumahnya di lalui Rasulullah dan rombongannya dengan ramah mempersilahkan Rasulullah untuk singgah. Rasulullah SAW pun tersenyum dan menyapa setiap orang, namun beliau tetap membiarkan AL QASHWA unta yang di naikinya terus berjalan. Warga Yastrib semakin banyak yang mengiringkan unta Rasulullah, semua orang ingin tahu rumah siapa yang akan di singgahi Rasulullah.
Akhirnya di sebuah tanah lapang di depan Rumah ABU AYYUB unta Rasulullah berhenti dan menderum, Rasulullah pun turun dari untanya dan berkata " Disinilah tempat singgah, Insya ALlah". Rasulullah bertanya milik siapakah tanah tersebut. Ternyata pemilik tanah tersebut adalah dua orang anak yatim yaitu SAHL dan Suhail bin AMR. Mereka bermaksud menghibahkannya, namun Rasulullah tidak berkenan menerima nya dan membelinya seharga 10 Dirham yang dibayarkan oleh ABU BAKAr. Mulai hari itulah nama Kota YASTRIB berubah menjadi MADINAH AL MUNAWWARAH atau KOTA NABI.
Di tanah milik Sahl dan Suhai itu Rasulullah kemudian membangun Masjid Nabawi. Batu perama pembangunan Masjid ini di letakkan oleh RasulullahSAW. Kemudian secara bergotong Royong masyarakat madinah membangun Masjid Nabawi dengan konstruksi yang amat sederhana.
Bangunan mesjid pertama ini adalah sebuah ruangan terbuka seluas 250 m persegi, dengan dinding terbuat dari tumpukan bata dan dilapisi tanah lumpur. Tingginya sekitar 2.5 meter, dengan tiang tiang terbuat dari batang kurma dan atapnya dari daun kurma, sebagian mesjid terbuka tanpa atap. Tidak semua bagian masjid di gunakan untuk tempat ibadah, sebagian digunakan untuk tempat tinggal para sahabat yang ikut hijrah, mereka dalam kondisi yang miskin karena semua harta bendanya di tinggalkan di Makkah.
Setelah pembangunan Masjid selesai, Rasulullah di bantu oleh seluruh warga Madinah mulai membangun rumah untuk keluarga Rasulullah saw yang letaknya di sebelah kiri mesjid, dengan ukuran yang lebih kecil dari masjid tetapi lebih tertutup.

BERKUMANDANGNYA ADZAN PERTAMA UMAT ISLAM
Ketika pembangunan Masjid telah selesai, Rasulullah SAW dan para sahabat, berunding bagaimana memberitahukan warga Madinah jika tiba waktu shalat. Ada berbagai usulan dari sahabat mulai menggunakan terompet sebagaimana kaum yahudi atau menggunankan lonceng sebagaimana kaum nasrani namun semua usulan tersbut di tolak oleh Rasulullah.
Hingga pada suatu malam Umar bin Khatab dan Abdullah bin Zaid mendapatkan mimpi yang sama yang meng isyaratkan penggunaan kalimat kalimat adzan yang sekarang digunakan untuk memberitahukan waktu shalat. Ketika mimpi tersebut di ceritakan kepada Rasulullah beliau juga mengatakan memiliki mimpi yang sama. Rasulullah kemudian memerintahkan Bilal biN Rabah seorang budak yang bersuara nyaring, untuk naik ke salah satu atap rumah yang paling tinggi di dekat Masjid dan mengumandangkan adzan sebagai tanda datangnya waktu shalat dan panggilan untuk shalat berjamaah.
Berkumandanglah Adzan pertama bagi kaum Muslimin yang selalu secara bergantian dari waktu waktu sejak saat itu hingga kini dan hingga entah kapan yang hanya Allah yang tahu waktu nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. solihat collection - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger